07 Desember 2009

Belajar Pengetahuan Prosedural dan Belajar Pengetahuan Deklaratif

B. Belajar Pengetahuan Prosedural
Perbedaan utama antara ahli dan bukan ahli dalam suatu bidang ialah bahwa ahli mempunyai jauh lebih banyak pengetahuan prosedural tentang bidang itu. Para ahli mempunyai aturan-aturan khusus untuk memanipulasi informasi. Misalnya, Seorang kampium catur mengenal pola-pola permainan yang penting diatas papan catur, dan dapat memutuskan gerak-gerak yang benar secara cepat. Seorang ahli elektronika mengenal pola-pola dalam diagram sircuit yang dapat menolongnya dalam menentukan masalah-masalah. Seorang ahli fisika dengan cepat memecahkan masalah-masalah fisika dengan mengenal rumus-rumus khusus yang dapat diterapkan. Apapun bidangnya, pengetahuan prosedural dibutuhkan bagi para ahli.
Tujuan dari pendidikan umum ialah bukan untuk menghasilkan kampium-kampium catur, atau ahli elektronika, atau ahli-ahli fisika, tetapi untuk menghasilkan ahli-ahli dalam keterampilan-keterampilan dasar. Ahli-ahli dalam keterampilan-keterampilan dasar seperti yang saya sebutkan diatas adalah persoalan memiliki pengetahuan prosedural yang tepat. Jadi, penting untuk mengetahui bagaimana pengetahuan prosedural itu diperoleh, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperlancar perolehan pengetahuan ini.
Sebagai langkah pertama dalam memahami perolehan pengetahuan prosedural, penting untuk membedakan antara dua bentuk prosedur, sebab proses-proses belajar untuk masing-masing bentuk agak berbeda. Prosedur-prosedur pengenalan pola mendasari kemampuan untuk mengenal dan mengklasifikasikan pola-pola stimulus internal dan ekternal. Prosedur-prosedur urutan-aksi mendasari kemampuan untuk melakukan urutan-urutan operasi-operasi terhadap symbol-simbol.
Dalam tindakan, prosedur-prosedur pengenalan pola dan urutan aksi menjadi terkait, tetapi pada tingkat-tingkat permulaan dari belajar lebih baik keduanya itu dipisahkan.
1. Prosedur-prosedur Pengenalan pola dan urutan aksi
Tabel 5.2 memperlihatkan bebarapa butir tes dari berbagai bidang studi. Butir-butir disebelah kiri meminta siswa untuk mengklasifikasi.
Tabel 5.2 Butir-butir tes untuk prosedur-prosedur pengenalan pola dan urutan aksi.
Pengenalan Pola Urutan Aksi
1. Yang mana yang katak ?
a. (gambar ular)
b. (gambar cacing)
c. (gambar katak)
d. (gambar berkicot)

2. Pasangan gagasan yang manakah yang berlawanan.
a. Kiki pendek, Kiki gemuk
b. Kiki pendek, Rudi tinggi
c. Kiki suka memancing, Kiki suka berjalan
d. Rudi berjalan kesekolah, Rudi berjalan ke Toko

3. y = 3x + 5 melukiskan suatu.
a. lingkaran
b. garis lurus
c. hiperbola
d. para bola 4.Peliharalah hewan yang kamu
temukan di sawah agar tidak mati

5.Gunakanlah konjungsi dan
punktuasi untuk menggabungkan
kalimat-kalimat berikut; saya suka
film itu. Siti tidak suka film itu.

6. Gambar suatu bentuk yang sesuai
dengan y = 3x + 5

Atau mengenal sesuatu (mis; katak).
Penyajian pengetahuan yang mendasari tindakan terhadap butir-butir tes semacam itu disebut suatu prosedur pengenalan pola, sebab prosedur itu mencari suatu pola stimulus tertentu. Contoh-contoh baru dari konsep-konsep ditentukan dengan prosedur-prosedur pengenalan pola.
Butir-butir yang disebelah kanan meminta agar seseorang bukan hanya mengenal pola yang ditentukan oleh kondisi-kondisi, melainkan juga melakukan seurutan aksi-aksi –apakah itu aksi-aksi mental atau aksi-aksi mental dan fisik. Untuk dapat menyelesaikan butir-butir seseorang harus melaksanakan suatu seri langkah-langkah dengan urutan yang benar. Misalnya, untuk menggabungkan dua kalimat yang berlawanan seorang mula-mula harus menghilangkan titik pada akhir kalimat pertama, lalu meletakkan koma antara kalimat pertama dan kalimat kedua dan akhirnya menambakan kata “tetapi” sesudah koma. Penyajian pengetahuan yang mendasari tindakan terhadap butir-butir tes semacam ini disebut prosedu urutan aksi, sebab prosedur itu melaksanakn satu seri aksi-aksi.

2. Perolehan Prosedur-prosedur Pengenalan pola
Banyak pola dipelajari dari pengalaman, tanpa intruksi langsung. Suatu contoh belajar dari pengalaman ialah perolehan kosa kata pada anak-anak. Banyak kosa kata terdiri atas nama-nama untuk pola-pola yang disetujui. Misalnya, kita setuju, bahwa hewan besar yang berkaki empat dan mempunyai ambing disebut “sapi” dan hewan besar yang berkaki empat dan mempunyai bulu tengkuk disebut “kuda”.
Kebanyakan anak-anak memulai sekolah dasar dengan kira-kira 7500 kata-kata yang mereka pahami (carolt, 1964). Bagaimana menguasai kosa kata sebanyak ini tanpa bersekolah ? Proses-proses yang terlibat dalam hal ini ialah generalisasi dan diskriminalisasi.
Generalisasi
Apabila seseorang memberikan respon dalam cara yang serupa pada stimulus-stimulus yang berbeda, ia dikatakan membuat generalisasi. Misalnya, seorang anak kecil yang melihat seekor kucing baru, dan memanggilnya “kucing”, membuat generalisasi dari contoh-contoh lama dari kucing ke contoh yang baru.
Salah satu cara mengkonseptualisasikan generalisasi yang disarankan oleh J.R Anderson dan kawan-kawan (Anderson, 1980) ialah sebagai proses pengubahan suatu produksi sehingga aksinya dapat diterapkan pada lebih banyak kasus. Menurut teori Anderson, generalisasi terjadi secara otomatis, bila dua produksi yang mempunyai aksi sama berada dalam memori kerja pada waktu yang sama. Mekanisme generalisasi mencari kondisi-kondisi yang sama, lalu melahirkan produksi yang baru yang mempertahankan kondisi-kondisi yang sama, dan menghilangkan kondisi-kondisi yang unik. Dalam contoh kucing kondisi-kondisi yang sama adalah sesuatu yang kecil, berbulu, yang bergerak dan berkata: “miau”. Kondisi-kondisi unik adalah nama-nama dari kucing-kucing yang khusus.

Contoh lain tentang generalisasi diperlihatkan dalam Tabel 5.5.
Disini seorang siswa belajar konsep poligon. Andaikata semua contoh-contoh poligon yang diberikan guru sebelumnya mempunyai delapan sisi. Sesudah melihat contoh-contoh ini, siswa itu mungkin membangun P1, yang mempunyai tiga kondisi : (1) bahwa ada suatu gambar dua dimensi, (2) bahwa gambar itu mempunyai semua sisi sama, dan (3) bahwa jumlah sisi itu kecil (kurang dari delapan). Andaikata kemudian hari guru memberikan beberapa contoh poligon yang lebih kompleks semua dengan delapan atau lebih sisi. Lalu siswa itu membangun produksi kedua (P2) untuk mengklasifikasi poligon-poligon bila mereka bersisi banyak, seperti halnya (P1) produksi ini mempunyai tiga kondisi (1). Bahwa ada suatu gambar berdimensi dua, (2). Bahwa gambar itu mempunyai semua sisi sama, dan (3) bahwa jumlah sisi lebih besar dari atau sama dengan delapan. Kedua produksi itu sama dalam dua kondisi pertama dan dalam aksi-aksi, tetapi berbeda dalam kondisi-kondisi ketiga.

Pada saat ini siswa mempunyai bahan baku untuk generalisasi. Ini berarti, bila dia mempunyai dua produksi yang mempunyai aksi yang sama. Bila kedua produksi ini menjadi teraktifasi pada waktu yang sama, mekanisme generalisasi otomatis akan memperhatikan bahwa mereka mempunyai aksi yang sama dan akan meneliti kondisi-kondisi mereka mengenai unsure-unsur yang sama. Unsure-unsur yang sama dalam contoh ini ialah kedua kondisi pertama. Produksi baru (P3) yang terbentuk mempunyai hanya kondisi-kondisi ini dan aksi mengklasifikasi gambar-gambar poligon.

Jadi, hasil utama dari generalisasi ialah menghilangkan kondisi-kondisi. Penghilangan kondisi-kondisi tercapai dengan meneliti anak-anak kalimat produksi-produksi yang mempunyai aksi-aksi yang sama.
Efek penghilangan kondisi-kondisi ialah untuk membiarkan suatu produksi terterapkan pada situasi yang lebih banyak.

Contoh 5.5 Suatu contoh generalisasi
P mempertahankan aksi yang ada dalam P1 dan P2 (mengklasifikasikan gambar sebagai poligon), dan juga mempertahankan kondisi-kondisi yang sama. P3 merupakan hasil generalisasi otomatis melalui P1 dan P2.;

JIKA gambar dua dimensi
dan SISI semua sama
dan jumlah SISI kurang dari delapan
P1 MAKA klasifikasikan gambar sebagai poligon
JIKA Gambar dua dimensi
Dan SISI semua sama
dan jumlah SISI delapan atau lebih
P2 MAKA klasifikasikan GAMBAR sebagai poligon
JIKA GAMBAR dua dimensi
dan SISI semua sama
P3 MAKA Klasifikasikan GAMBAR sebagai poligon

Diskriminasi
Generalisasi meningkatkan daerah situasi-situasi untuk penerapan suatu prosedur, dengkan diskriminasi mengurangi atau mempersempit daerah ini.
Menurut teori Anderon, diskriminasi mengakibatkan penambahan pada bagian kondisi dari suatu produksi. Mari kita kembali pada contoh 5.5.

3. Perolehan Prosedur-prosedur Urutan Aksi
Prosedur-prosedur pengenalan –pola kerap kali mempersiapkan urutan-urutan aksi yang akan datang. Kita mengklasifikasikan hal-hal bukan hanya untuk kesenangan intelektual. Kita melakukan hal itu sebab klasifikasi menolong kita membuat ramalah-ramalan, atau melaksanakan aksi-aksi, Jadi pengenalan pola dan urutan-urutan aksi sangat terkait dalam tindakan. Akan tetapi, selama belajar kedua prosedur dapat dipisahkan.
Belajar urutan –urutan aksi merupakan proses yang lambat, dengan membuat banyak kesalahan.

Bila kita pernah mempelejari suatu program komputer atau suatu bahasa asing, kita dapat membayangkan bagaimana lambatnya kita menghafalkan dan lambatnya kita bekerja pada permulaan. Kebanyakan tujuan dalam pelajaran –pelajaran memprogram dan bahasa asing merupakan pelajaran urutan aksi. Hal ini dapat kita lihat dari tugas-tugas yang diberikan, tugas untuk “menulis suatu program untuk menemukan akar dari suatu bilangan” membutuhkan bahwa banyak aksi-aksi simbolik yang harus dilakukan. Demikian pula tugas untuk”mengubah sepuluh kalimat-kalimat dalam bahasa perancis dari waktu sekarang ke waktu yang akan datang.
Menurut Teori Anderson urutan-urutan aksi dipelajari dengan cara seperti berikut. Mula-mula si Pelajar menyajikan suatu urutan aksi-aksi dalam bentuk deklaratif. Lalu berkembang suatu penyajian prosedural dari urutan aksi dengan pengalaman dalam mencoba menghasilkan urutan aksi.Contoh seseorang menjalankan mobil (tidak otomatis). Pada permulaan kita membimbing diri kita sendiri secara verbal dengan mengucapkan (atau memikirkan) setiap langkah, lalu melaksanakan langkah itu, lalu setelah banyak kali mencoba menjalankan mobil semacam ini , kita menjalankan mobil dengan lancar, dan tanpa sadar akan perangsangan dari pengetahuan deklaratif.
Proses perubahan dari tindakan suatu urutan aksi-aksi yang dibimbing oleh pengetahuan deklaratif ke tindakan yang dibimbing oleh pengetahuan prosedural, disebut oleh Anderson “komplikasi pengetahuan” istilah menyarankan suatu analogi dengan komputer. Komplikasi pengetahuan merupkan suatu proses pembentukan suatu penyajian untuk urutan –urutan aksi yang menuju pada tindakan yang lancar dan cepat.
Komplikasi pengetahuan dikatakan terdiri atas dua sub proses : proseduralisasi dan komposisi. Proseduralisasi ialah pengguguran perangsang-perangsang dari pengetahuan deklaratif, sedangkan komposisi ialah penggabungan beberapa prosedur menjadi satu prosedur.
Proseduralisasi
Banyak urutan-urutan aksi yang kita pelajari mulai sebagai pengetahuan deklaratif. Kita membaca aturan-aturan dalam buku teks atau menulis suatu urutan langkah-langkah pada papan tulis yang harus kita ikuti. Demikian pula, kita mengamati urutan-urutan aksi orang lain, kita menyajikan urutan-urutan itu secara deklaratif. Dikemudian hari kita panggil pengetahuan deklaratif ini dalam usaha untuk meniru hal-hal yang perlu. Jadi, langkah pertama dalam belajar urutan-urutan aksi ialah menciptakan suatu penyajian proposional untuk prosedur. Langkah kedua ialah menciptakan satu produksi untuk menyajikan setiap langkah dalam urutan aksi. Kedua langkah ini terjadi selama prosedural.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar